Jumat, 02 Januari 2015



Cerita Seks Dengan Adik Sepupu

Sebutlah namaku Halim, aku sudah kuliah tingkat 3 disuatu Universitas di J-town, tubuhku cukup tinggi dan berisi walaupun tidak begitu tampan, menurut teman-teman dekatku: aku seorang yang mudah bergaul dan menarik perhatian khususnya cewek-cewek. Aku senang memberikan waktu luang untuk menerima curhat mereka dan memberikan perhatian lebih kepada cewek-cewek

Sudah jadi sarapan buat saya untuk selalu online dan browsing dari pagi hingga malam. Bisanya saat sedang asik-asiknya men-download sharewares, otak bokepku langsung hidup. Akhirnya kubuka lagi window yang baru diisi dengan URL hot-hot. Kucari dengan jeli setiap gallery yang berisikan model-model cewek sexy khususnya Japan. Selain itu, shareware program-ku juga tidak luput dari bahan pencarian video-video bokep.

Itulah sepintas mengenai diriku. Akhirnya, akan kuceritakan pengalaman pertamaku berhubungan intim.

Saat itu aku masih kuliah tingkat 1, kira-kira usiaku masih 19 tahun. Pagi sekali aku terbangun dari pulau kapuk kesayanganku. Ahh… hari sabtu ini aku tak ada kuliah… malas sekali rasanya keluar kamar, jam baru menunjukkan pukul 04.30 pagi. Kulanjutkan saja mimpiku.

“Lim… Bangun…” terdengar bisikan lembut ditelinga dari seorang gadis. “.
“Gadis… Gadis!!?” dalam hatiku tiba-tiba terkaget dan kedua mataku sontak melotot terbangun. Dalam posisi terduduk dan tampang berantakan aku terbangun. Sinar matahari dari balik jendela terhalang sosok manis berambut panjang,
“Uuuh… Sori, siapa ya?” aku bertanya siapa gerangan sosok itu.
“Hei, bangun! Udah jam 10.00 lho…” sosok tersebut menjawab. Setelah kugosok mataku, barulah terlihat jelas siapa makhluk cantik ini.

Dialah Meydia, saudara sepupuku. Dia masih kelas 2 SMA, 17 tahun usianya, rambut hitamnya tergerai panjang dan berkilau halus.
“Oh my God! Pagi-pagi udah dapet yang seger…” kataku cuek.
“Ih… dasar… ayo cepetan bangun, udah gak tahan nih!” katanya mengagetkan diriku karena kata-kata terakhirnya.
“Buset! Mau ngapain nih?” tanyaku ‘mupeng’.
“Yeee… bukannya mau apa, tapi mau kemana! Anterin Dya ke Giant yuk, ntar sekalian kita ke Starbucks, Dya yang traktir koq”. Ya ampun, ternyata itu toh, dasar otak bokep lupa dimatiin sejak semalem browsing. Cepat-cepat aku bersihkan diri lalu berpakaian jeans biru + kaos casual hitam. Kemudian berangkat berdua.

Saat berdua seperti ini tak ada yang tahu bahwa kita adalah saudara. Ditambah lagi dengan kebiasaannya merangkul tanganku, bahkan bergenggaman tangan denganku layaknya orang pacaran. Untuk diriku yang jomblo sih, oke saja. Sabodo setan belang ah! Apalagi kulitnya yang putih itu terasa sangat mulus, waduuuh… semriwing rasanya, sampai si Mr. Driller pengen ikutan action, walau kucegah. Memalukan kalau terlihat orang lewat bahwa jeans-ku bertanduk didepan.
Singkat cerita, kami akhirnya pulang. Kunyalakan mobilku. Lalu berdua pulang kerumahku. Jarak antara tempat tadi dengan rumahku memang cukup jauh, sekitar 20km, dan harus melewati tol. Saat sedang asyiknya santai menyetir, tiba-tiba tangan kiriku digenggam oleh Dya dengan erat (mobilku matik, jadi tangan kiriku sering nganggur), dan Dya tersenyum manis kepadaku. Diriku ‘salting’ dan wajahku memerah,
“manis banget…” batinku. Lalu Dya menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku dengan tangan tetap mengenggam.
“Oh my God! Udah jatuh, ketiban tangga, dapet durian tetangga, dapet pula anak perempuannya!!!”. Momen ini terus berlanjut hingga sampai dirumahku, karena ditengah perjalanan Dya tertidur pulas.

Kugendong Dya menuju kamar kakak perempuanku.
“Weleh… weleh… mulus banget tuh body…” batinku, bagaimana tidak: Dya hari ini mengenakan kaos lengan pendek yang agak ketat dengan daerah dada yang agak terbuka (seperti V-neck) dan mini skirt pink.

Sepertinya otak bokepku sudah konslet. Memang hari ini tak ada siapapun dirumah, ortu dan kakak pergi ke luar kota, hanya ada seorang pembantu disini. Sebelum stimulan otak ini menguap, cepat-cepat kuberikan list barang keperluan kuliahku dan sejumlah uang kepada pembantuku itu, kusuruh dia agar membeli ditoko C yang terletak lumayan jauh (2 jam perjalanan pp). Setelah yakin rumah telah benar-benar kosong dan tidak lupa mengunci gerbang depan, aku langsung berlari menuju surga dunia yang sedang terlelap tadi.
“Oh… mulus banget…” batinku saat melihat kembali diri Dya terlentang tertidur pulas. Sangat hati-hati kusingkap mini skirt pink-nya. Cd-nya warna biru muda bermotif manis. ‘Tueeeng…’ penisku sudah mengamuk minta dipekerjakan secepatnya.
Pelan tapi pasti, kuturunkan mini skirt dan kulepaskan kaosnya. Saat ini tubuh Dya hanya berlapis bra dan cd berwarna biru muda manis. Sangat menggairahkan. Darahku berdesir hebat, hingga mataku tak dapat memejam.

Belum berakhir, kulepas kaitan bra-nya, “slep…”. Wuidiiiih….!!! Mantaaaafff!!! Mulus, iya. Kenceng, iya. Ranum, iya. Putih, iya. Dan ukuran payudaranya sangat pas untuk usianya. Kusentuh dengan tangan gemetaran, maklumlah… pengalaman pertama…
“Oh… beginikah rasanya payudara seorang gadis? Oh Tuhan, aku sangat bersyukur karena telah diberikan bidadari versi dunia seperti Dya…” hatiku terharu.
Kuperlakukan kedua gunung susu itu seperti yang pernah kutonton dari video-video bokep hasil download, tapi benar-benar kupilih cara yang halus, benar-benar kunikmati.

Kira-kira cukup puas dengan payudaranya. Kini saatnya membuka ‘main course’. Sebelum kubuka cd-nya, kuhirup perlahan belahan pada gundukan kecilnya.
“Hmmm… harumnya…” Dya memang cewek yang bersih dan teliti dalam merawat dirinya.
Sambil kuhirup, kuturunkan cd-nya secara perlahan namun pasti. “plas…” lepas sudah penutupnya.

Kali ini mataku benar-benar melotot tajam dan badanku gemetaran saking kagumnya. Terpampang amat jelas, sebuah gundukan kecil, halus, putih, mulus, dengan sedikit bulu kemaluan. Pelan-pelan kudekatkan wajahku, ingin rasanya mencicip daerah itu.

Tiba-tiba terdengar suara, “hei…”. Betapa kagetnya diriku melihat Dya terbangun, aku langsung mundur.
“Kenapa, lim? Udah gak tahan ya?” katanya membuatku terdiam sejenak.
“Sori, aku beneran gak tahan, abisnya kamu keliatan begitu… ya gitu deh…” kataku tak ada ide untuk menjawab.
“Ya sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula aku juga emang suka sama kamu koq.” Katanya tersenyum manis sambil menarikku kembali, diriku masih tidak dapat mempercayai anugerah ini.
“Sini sayang, kamu juga harus sama kayak aku, masak cuma aku yang telanjang…” katanya santai. Kubantu dirinya membuka pakaianku.
Perlahan-lahan pakaianku terbuka semua tinggal cd saja, sudah teracung amat tegak dan gagah disana.
“Sudah lama aku suka sama kamu, lagipula perkimpoian antara sepupu tidak dilarang toh, Lim?” katanya sambil menarik perlahan cd-ku.
“slep… toeeeng…” penisku terpental mengenai pipi Dya.
“Wah… Gede banget, Lim.” Dirinya terpukau melihat tombak sakti milikku, cukup besarlah ukurannya sebagai cowok indo: panjang 19cm, dan diameter 5cm.
Tanpa izin sebelumnya, penisku langsung dikulumnya, Dya sangat mahir mengerjai Mr. Driller-ku. Kupikir Dya sudah pernah melakukan hubungan intim sebelumnya, maka kutanyakan dirinya,
“Dya, kamu pernah ML sebelumnya, koq auuhh… God! bisa pinter begini?” kataku dengan penis masih terkulum.

“Gak juga… Cuma sering liat di video punya kamu, dan biasanya aku praktekin kuluman ini pake ketimun, latihan, latihan, dan latihan… hehe… mmm…” jawabnya cuek yang langsung dilanjutkan dengan kuluman lagi.
“Arrgh… Gila, enaknya… Terus, say…” ceracauku karena emang keenakan. Tiba-tiba rasa itu hilang sejenak karena Dya melepaskan kulumannya

“Lim, ingat. Aku cuma kasih diriku buat kamu seorang, gak ada lagi…” katanya sambil terlentang pasrah, bahasa tubuhnya memanggilku untuk segera melayaninya.
Segera kuatur posisiku sambil duduk dengan lutut dikasur dan menarik kedua kakinya mengelilingi pinggulku. Kuberikan sedikit air ludah kekepala penisku agar lebih licin. Perlahan namun pasti, kemasukkan penisku ke lubang vaginanya.
“Ssst… Slap…” tidak berhasil, penisku terpeleset. Kucoba kembali, kali ini dengan posisi tubuh yang lebih tegas, agar penisku lebih lurus menghadap vaginanya.
“Sssrrt…” Sedikit sekali bagian kepala penisku yang berhasil masuk. 
“Aauuuhh… Sakit, yang… Sakitttt…” Rintihan Dya terdengar amat nyaring. Kubiarkan posisi ini agar vaginanya dapat terbiasa dengan penisku. Setelah terasa vaginanya agak rileks, kudorong kembali peluruku,

“Sllep… Ssst…” kali ini kepala penisku sudah masuk, berarti baru sepertiga penisku yang masuk.
“Sayanggg… Sakittt… Uh… Uh…” rintihnya sambil menangis.
“Iya, sebentar ya, sayang. Aku jamin, sebentar lagi kamu akan ngerasain yang sama denganku, aku sayang kamu.” Kataku menenangkannya. Kudorong kembali penisku lebih dalam. Semakin kedalam, semakin sempit dan menyedot vaginanya, tapi semakin nikmat.
“Oooh… Sssh…” erangku kenikmatan. Saat sedang nikmatnya memasukkan penis, tiba-tiba terasa kepala penisku seperti menembus suatu lapisan halus.
“Aaah… Sakit, sayang… Auuh…” ternyata selaput daranya sudah tertembus olehku. Dya, tidak bohong, ia memang masih perawan. Terima kasih, Dya.
“Shhaaah… Hmmm…” habis sudah batangku ditelan lubang surganya. Rasanya seperti disedot kuat, dan dijepit, tapi amat nikmat dan hangat.
“Yang… sakitnya udah agak kurang, kamu udah masuk semua ya? Gede banget, penuh rasanya…” tanyanya sambil berlinang air mata.
“Ya, sudah… Terima kasih, sayang…” kataku sambil mengecup bibir tipisnya.

Kulanjutkan dengan memaju-mundurkan pantatku. Penisku dengan mantapnya dan tegaknya keluar-masuk vagina Dya.
“Hmmm… Oooh… Nyaaah… Ooooh…” erangnya ikut merasakan hal yang sama denganku.
“Say, aku sebentar lagi mau cepetin nih… Aeehhh… Kamu siap kan, yang? Aaah…” kataku sambil terengah-engah menaklukannya.
“Hhhh... Ih…Yah… Hoohh….” Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya menahan rasa nikmat yang teramat sangat.

Maka, semakin lama, semakin cepat tusukanku.
“Plak… Plokk… Plakk…” suara yang dihasilkan oleh bertemunya kedua pinggul kami yang berkeringat ditambah dengan caraku memasukkan habis semua penisku kedalam vaginanya, terdengar amat nyaring.
Wajahnya mulai memerah dan semakin memejamkan matanya.
“Aaaah…!!! Yang, aku mau keluaaaaar!!!” teriaknya karena orgasmenya sudah mendekat.
“Arrhh… Iyaahh… Aku juggaah… Sayaaangh… Barengan yahhh…” jawabku terengah karena mengejar orgasmeku.

“Aku keluar, sayanghhh…” eranganku kini terdengar amat nyaring, melepaskan orgasme pertamaku.
“Aku juga, sayangkuhh…” rintihnya bersamaan denganku.
“Crat… Crttt…” kutumpahkan semua spermaku didalamnya. Kudiamkan posisi misionaris ini dengan penis masih menancap hingga kami tertidur pulas bersama.

Sekitar seminggu 2 kali kami pasti melakukannya, dan pasti sembunyi-sembunyi hingga sekarang. Kami sudah berkomitmen agar terus setia, dan aku janji untuk tanggung jawa
“Sssrrt…” Sedikit sekali bagian kepala penisku yang berhasil masuk.
“Aauuuhh… Sakit, yang… Sakitttt…” Rintihan Dya terdengar amat nyaring. Kubiarkan posisi ini agar vaginanya dapat terbiasa dengan penisku. Setelah terasa vaginanya agak rileks, kudorong kembali peluruku,

“Sllep… Ssst…” kali ini kepala penisku sudah masuk, berarti baru sepertiga penisku yang masuk.
“Sayanggg… Sakittt… Uh… Uh…” rintihnya sambil menangis.
“Iya, sebentar ya, sayang. Aku jamin, sebentar lagi kamu akan ngerasain yang sama denganku, aku sayang kamu.” Kataku menenangkannya. Kudorong kembali penisku lebih dalam. Semakin kedalam, semakin sempit dan menyedot vaginanya, tapi semakin nikmat.
“Oooh… Sssh…” erangku kenikmatan. Saat sedang nikmatnya memasukkan penis, tiba-tiba terasa kepala penisku seperti menembus suatu lapisan halus.
“Aaah… Sakit, sayang… Auuh…” ternyata selaput daranya sudah tertembus olehku. Dya, tidak bohong, ia memang masih perawan. Terima kasih, Dya.
“Shhaaah… Hmmm…” habis sudah batangku ditelan lubang surganya. Rasanya seperti disedot kuat, dan dijepit, tapi amat nikmat dan hangat.
“Yang… sakitnya udah agak kurang, kamu udah masuk semua ya? Gede banget, penuh rasanya…” tanyanya sambil berlinang air mata.
“Ya, sudah… Terima kasih, sayang…” kataku sambil mengecup bibir tipisnya.

Kulanjutkan dengan memaju-mundurkan pantatku. Penisku dengan mantapnya dan tegaknya keluar-masuk vagina Dya.
“Hmmm… Oooh… Nyaaah… Ooooh…” erangnya ikut merasakan hal yang sama denganku.
“Say, aku sebentar lagi mau cepetin nih… Aeehhh… Kamu siap kan, yang? Aaah…” kataku sambil terengah-engah menaklukannya.
“Hhhh... Ih…Yah… Hoohh….” Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya menahan rasa nikmat yang teramat sangat.

Maka, semakin lama, semakin cepat tusukanku.
“Plak… Plokk… Plakk…” suara yang dihasilkan oleh bertemunya kedua pinggul kami yang berkeringat ditambah dengan caraku memasukkan habis semua penisku kedalam vaginanya, terdengar amat nyaring.
Wajahnya mulai memerah dan semakin memejamkan matanya.
“Aaaah…!!! Yang, aku mau keluaaaaar!!!” teriaknya karena orgasmenya sudah mendekat.
“Arrhh… Iyaahh… Aku juggaah… Sayaaangh… Barengan yahhh…” jawabku terengah karena mengejar orgasmeku.

“Aku keluar, sayanghhh…” eranganku kini terdengar amat nyaring, melepaskan orgasme pertamaku.
“Aku juga, sayangkuhh…” rintihnya bersamaan denganku.
“Crat… Crttt…” kutumpahkan semua spermaku didalamnya. Kudiamkan posisi misionaris ini dengan penis masih menancap hingga kami tertidur pulas bersama.

Sekitar seminggu 2 kali kami pasti melakukannya, dan pasti sembunyi-sembunyi hingga sekarang. Kami sudah berkomitmen agar terus setia, dan aku janji untuk tanggung jawab

0 komentar:

Posting Komentar